MODUL PKG PJOK 1.5.C. KEKUATAN PEMAHAMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PJOK - PKG PJOK

 

1.5.c. Kuatkan Pemahaman - Pengembangan Kurikulum PJOK

 

Tagihan untuk Bapak/Ibu:

Bapak/Ibu  yang berbahagia, saat ini Bapak/Ibu telah sampai pada tahapan Kuatkan Pemahaman di akhir keseluruhan pembelajaran. Di tahapan ini, kami berharap Bapak/Ibu akan semakin mendapatkan kekuatan dan semangat untuk terus belajar dan mencoba menerapkan apa yang telah dipelajari ke dalam langkah-langkah konkret.  

Bapak/Ibu akan saling berbagi praktik baik yang dipandu oleh Fasilitator pada pertemuan tatap maya. Namun, sebelumnya Bapak dan Ibu akan mencoba menjawab pertanyaan di bawah ini dan melakukan refleksi secara mandiri sebagai tugas asinkron.

·       Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari peserta didik, agar mereka mampu mengetahui (pengetahuan) dan mampu melakukan (keterampilan) sebagai hasil dari program PJOK?

·       Bagaimana cara Bapak dan Ibu mengetahui ketika mereka telah berhasil mencapainya?

·       Bagaimana Bapak dan Ibu menghantarkan mereka sampai pada tujuan yang diharapkan dengan cara-cara yang semenantang dan semenarik mungkin?

·       Apa yang Ibu/Bapak dan Ibu maknai ketika mencoba mengembangkan kurikulum berdasarkan program PJOK tadi jika dimulai dari harapan akhir atau capaian akhir yang diinginkan?

 

1. Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari peserta didik, agar mereka mampu mengetahui (pengetahuan) dan mampu melakukan (keterampilan) sebagai hasil dari program PJOK?

Sebagai guru PJOK, saya memiliki harapan besar bagi peserta didik yang mengikuti program pembelajaran PJOK. Saya ingin mereka dapat mencapai beberapa hal berikut:

Pengetahuan:

Memahami konsep-konsep dasar tentang kebugaran jasmani, kesehatan, dan olahraga. Mengetahui berbagai macam olahraga dan sejarahnya. Memahami pentingnya menjaga kesehatan dan pola makan yang seimbang.

 

Mengetahui bagaimana melakukan aktivitas fisik dengan aman dan terhindar dari cedera. dan

Memahami nilai-nilai penting seperti sportivitas, kepemimpinan, dan kerjasama.

Keterampilan:

Memiliki keterampilan gerak dasar yang baik seperti lokomotor, nonlokomotor, manipulatif, dan dasar-dasar olahraga.

Mampu melakukan berbagai macam aktivitas fisik dengan tingkat kebugaran yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.

Mampu menerapkan nilai-nilai penting seperti sportivitas, kepemimpinan, dan kerjasama dalam berbagai situasi.

Mampu berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan kebugaran jasmani, kesehatan, dan olahraga.

2. Bagaimana Bapak dan Ibu menghantarkan mereka sampai pada tujuan yang diharapkan dengan cara-cara yang semenantang dan semenarik mungkin?

Sebagai guru PJOK, saya selalu berusaha untuk mengetahui apakah saya telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran yang telah saya tetapkan dalam program PJOK. Berikut beberapa cara yang dapat saya lakukan

1. Melakukan Penilaian

Saya melakukan penilaian secara berkala untuk mengetahui tingkat pencapaian pembelajaran peserta didik. Penilaian ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti tes tertulis, tes praktek, observasi, portofolio, dan proyek belajar. Hasil penilaian ini digunakan untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik dan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam proses belajar mengajar.

2. Mengamati Perilaku Peserta Didik

Saya mengamati perilaku peserta didik di dalam dan di luar kelas untuk melihat apakah mereka menunjukkan perubahan yang positif sebagai hasil dari program PJOK.

3. Bagaimana Bapak dan Ibu menghantarkan mereka sampai pada tujuan yang diharapkan dengan cara-cara yang semenantang dan semenarik mungkin?

1. Menggunakan Berbagai Metode Pembelajaran

2. Memanfaatkan Teknologi

3. Mengintegrasikan PJOK dengan Mata Pelajaran Lain

4. Melakukan Kegiatan di Luar Kelas

5. Menciptakan Suasana Belajar yang Kondusif

6. Melibatkan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran

4. Apa yang Ibu/Bapak dan Ibu maknai ketika mencoba mengembangkan kurikulum berdasarkan program PJOK tadi jika dimulai dari harapan akhir atau capaian akhir yang diinginkan?

Mengembangkan kurikulum PJOK berdasarkan capaian akhir atau harapan akhir yang diinginkan memiliki makna dan implikasi yang mendalam bagi proses pembelajaran. Ini bukan sekadar menyusun daftar materi pelajaran, tetapi tentang merancang pengalaman belajar yang holistik dan bermakna bagi peserta didik.

Fokus pada Peserta Didik: Kurikulum berbasis capaian akhir berpusat pada peserta didik dan perkembangan mereka. Capaian akhir menjadi tolok ukur untuk memastikan bahwa pembelajaran berorientasi pada kebutuhan dan potensi peserta didik.

Pembelajaran Bertujuan: Capaian akhir memberikan arah yang jelas bagi pembelajaran, memungkinkan guru untuk merancang kegiatan belajar yang terarah dan efektif untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

 https://youtu.be/Z69MuD2fB2k?si=MNOVN6xTEJxdj7tD

JAWABAN 1.5.c. Kuatkan Pemahaman - Pengembangan Kurikulum PJOK

Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari peserta didik, agar mereka mampu mengetahui (pengetahuan) dan mampu melakukan (keterampilan) sebagai hasil dari program PJOK?

 


Harapan untuk Peserta Didik dari Program PJOK

Sebagai guru PJOK, saya memiliki harapan besar bagi peserta didik yang mengikuti program pembelajaran PJOK. Saya ingin mereka dapat mencapai beberapa hal berikut:

Pengetahuan:

Memahami konsep-konsep dasar tentang kebugaran jasmani, kesehatan, dan olahraga.

Mengetahui berbagai macam olahraga dan sejarahnya.

Memahami pentingnya menjaga kesehatan dan pola makan yang seimbang.

Mengetahui bagaimana melakukan aktivitas fisik dengan aman dan terhindar dari cedera.

Memahami nilai-nilai penting seperti sportivitas, kepemimpinan, dan kerjasama.

Keterampilan:

Memiliki keterampilan gerak dasar yang baik seperti lokomotor, nonlokomotor, manipulatif, dan dasar-dasar olahraga.

Mampu melakukan berbagai macam aktivitas fisik dengan tingkat kebugaran yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.

Mampu menerapkan nilai-nilai penting seperti sportivitas, kepemimpinan, dan kerjasama dalam berbagai situasi.

Mampu berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan kebugaran jasmani, kesehatan, dan olahraga.

Mampu berkomunikasi secara efektif tentang kebugaran jasmani, kesehatan, dan olahraga.

Lebih dari sekadar pengetahuan dan keterampilan, saya juga berharap program PJOK dapat membantu peserta didik untuk:

Mengembangkan rasa cinta terhadap aktivitas fisik dan olahraga.

Menjadi individu yang sehat, bugar, dan aktif.

Memiliki karakter positif dan berakhlak mulia.

Memiliki kemampuan bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Memiliki rasa percaya diri dan mampu mencapai potensi mereka secara optimal.

Saya yakin bahwa program PJOK yang dirancang dengan baik dan dilaksanakan dengan efektif dapat membantu peserta didik untuk mencapai semua harapan tersebut. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PJOK di kelas saya dan memberikan pengalaman belajar yang terbaik bagi semua peserta didik.

Berikut beberapa contoh penerapan dalam praktik:

  • Menggunakan berbagai metode pembelajaran yang menarik dan interaktif untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi peserta didik.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif dan positif kepada peserta didik untuk membantu mereka belajar dan berkembang.
  • Menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan suportif di mana semua peserta didik merasa dihargai dan dihormati.
  • Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran PJOK.
  • Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara mandiri dan berkolaborasi dengan teman sebayanya.

Bagaimana cara Bapak dan Ibu mengetahui ketika mereka telah berhasil mencapainya?

Mengetahui Keberhasilan Pencapaian Tujuan Pembelajaran PJOK

Sebagai guru PJOK, saya selalu berusaha untuk mengetahui apakah saya telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran yang telah saya tetapkan dalam program PJOK. Berikut beberapa cara yang dapat saya lakukan

Melakukan Penilaian:

Saya melakukan penilaian secara berkala untuk mengetahui tingkat pencapaian pembelajaran peserta didik. Penilaian ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti tes tertulis, tes praktek, observasi, portofolio, dan proyek belajar. Hasil penilaian ini digunakan untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik dan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam proses belajar mengajar.

2. Mengamati Perilaku Peserta Didik:

Saya mengamati perilaku peserta didik di dalam dan di luar kelas untuk melihat apakah mereka menunjukkan perubahan yang positif sebagai hasil dari program PJOK.

Hal ini dapat dilihat dari partisipasi mereka dalam pembelajaran, antusiasme mereka terhadap aktivitas fisik, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain.

3. Mendapatkan Masukan dari Peserta Didik, Orang Tua, dan Guru Lain:

Saya meminta masukan dari peserta didik, orang tua, dan guru lain tentang program PJOK.

Masukan ini dapat diperoleh melalui survei, wawancara, atau diskusi kelompok.

Masukan dari berbagai pihak ini membantu saya untuk mengetahui apakah program PJOK telah berhasil mencapai tujuannya.

4. Menganalisis Data:

Saya menganalisis data penilaian, observasi, dan masukan untuk mengidentifikasi pola dan tren.

Analisis data ini membantu saya untuk mengetahui apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam program PJOK.

Informasi ini dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas program PJOK di masa depan.

5. Membandingkan Hasil dengan Standar:

Saya membandingkan hasil belajar peserta didik dengan standar yang telah ditetapkan.

Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil belajar peserta didik dengan nilai rata-rata nasional atau standar yang ditetapkan oleh sekolah.

Perbandingan ini membantu saya untuk mengetahui apakah program PJOK telah mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan.

Indikator Keberhasilan:

Peningkatan tingkat kebugaran jasmani peserta didik.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik tentang kebugaran jasmani, kesehatan, dan olahraga.

Peningkatan partisipasi peserta didik dalam aktivitas fisik.

Perubahan positif dalam perilaku peserta didik, seperti peningkatan rasa percaya diri, sportivitas, dan kerjasama.

Masukan positif dari peserta didik, orang tua, dan guru lain.

Pencapaian hasil belajar yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Dengan menggunakan berbagai cara di atas, saya dapat mengetahui apakah saya telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran PJOK. Hal ini penting untuk memastikan bahwa program PJOK yang saya laksanakan benar-benar efektif dan bermanfaat bagi semua peserta didik.

Berikut beberapa contoh penerapan dalam praktik:

Melakukan tes kebugaran jasmani secara berkala untuk memantau kemajuan peserta didik.

Mengamati bagaimana peserta didik berinteraksi dengan teman sebayanya selama permainan edukatif PJOK.

Meminta peserta didik untuk menulis jurnal tentang pengalaman mereka dalam program PJOK.

Melakukan pertemuan dengan orang tua untuk membahas kemajuan belajar anak mereka.

Berkolaborasi dengan guru lain untuk mengembangkan program PJOK yang lebih komprehensif dan terintegrasi.

Bagaimana Bapak dan Ibu menghantarkan mereka sampai pada tujuan yang diharapkan dengan cara-cara yang semenantang dan semenarik mungkin?

 Menghantarkan Peserta Didik Mencapai Tujuan PJOK dengan Cara Menantang dan Menarik

Sebagai guru PJOK, saya selalu berusaha untuk membuat pembelajaran yang menantang dan menarik bagi peserta didik agar mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Berikut beberapa strategi yang dapat saya lakukan:

1. Menggunakan Berbagai Metode Pembelajaran:

Saya menggunakan berbagai metode pembelajaran yang menarik dan interaktif, seperti permainan edukatif, simulasi, proyek belajar, dan pembelajaran berbasis masalah.

Hal ini dapat membantu peserta didik untuk belajar secara aktif dan partisipatif, serta meningkatkan motivasi dan minat mereka terhadap pembelajaran PJOK.

2. Memanfaatkan Teknologi:

Saya memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran PJOK untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif.

Saya dapat menggunakan video, aplikasi edukasi, dan media sosial untuk membantu peserta didik memahami materi pembelajaran dan mengembangkan keterampilan mereka.

3. Mengintegrasikan PJOK dengan Mata Pelajaran Lain:

Saya mengintegrasikan PJOK dengan mata pelajaran lain untuk membuat pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna bagi peserta didik.

Hal ini dapat dilakukan dengan menghubungkan materi pembelajaran PJOK dengan mata pelajaran lain seperti sains, matematika, dan bahasa Indonesia.

4. Melakukan Kegiatan di Luar Kelas:

Saya melakukan kegiatan di luar kelas untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata dan menyenangkan bagi peserta didik.

Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan field trip, kunjungan ke tempat wisata, atau mengikuti lomba olahraga.

5. Memberikan Tantangan dan Penghargaan:

Saya memberikan tantangan dan penghargaan kepada peserta didik untuk mendorong mereka agar lebih bersemangat dalam belajar.

Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas yang menantang, mengadakan lomba, atau memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi.

6. Menciptakan Suasana Belajar yang Kondusif:

Saya menciptakan suasana belajar yang kondusif di mana peserta didik merasa aman, dihargai, dan didukung untuk belajar.

Hal ini dapat dilakukan dengan membangun hubungan yang positif dengan peserta didik, menciptakan ruang kelas yang inklusif, dan mendorong partisipasi aktif dari semua peserta didik.

7. Melibatkan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran:

Saya melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran PJOK.

Hal ini dapat dilakukan dengan meminta masukan dari peserta didik tentang materi pembelajaran, metode pembelajaran, dan kegiatan belajar mengajar.

8. Memberikan Kesempatan kepada Peserta Didik untuk Belajar Secara Mandiri dan Berkolaborasi:

Saya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara mandiri dan berkolaborasi dengan teman sebayanya.

Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas mandiri, proyek belajar kelompok, dan diskusi kelas.

Dengan menerapkan strategi-strategi di atas, saya yakin bahwa saya dapat menghantarkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran PJOK dengan cara yang menantang dan menarik. Hal ini diharapkan dapat membantu peserta didik untuk belajar secara efektif dan efisien, serta mengembangkan rasa cinta terhadap aktivitas fisik dan olahraga.

Berikut beberapa contoh penerapan dalam praktik:

Membuat permainan edukatif PJOK yang menggunakan teknologi augmented reality.

Mengembangkan proyek belajar PJOK tentang kesehatan dan gizi yang melibatkan kerjasama dengan komunitas lokal.

Melakukan field trip ke museum olahraga untuk mempelajari sejarah olahraga.

Mengadakan lomba lari estafet untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kerjasama tim.

Memberikan penghargaan kepada peserta didik yang menunjukkan sportivitas dan kerjasama yang baik.

Membangun hubungan yang positif dengan peserta didik dengan cara berkomunikasi secara terbuka dan saling menghormati.

Melibatkan peserta didik dalam memilih materi pembelajaran dan metode pembelajaran.

Memberikan tugas mandiri kepada peserta didik untuk meneliti tentang berbagai macam olahraga.

·       Apa yang Ibu/Bapak dan Ibu maknai ketika mencoba mengembangkan kurikulum berdasarkan program PJOK tadi jika dimulai dari harapan akhir atau capaian akhir yang diinginkan?

 

Mengembangkan Kurikulum PJOK Berbasis Capaian Akhir: Makna dan Implikasinya

Mengembangkan kurikulum PJOK berdasarkan capaian akhir atau harapan akhir yang diinginkan memiliki makna dan implikasi yang mendalam bagi proses pembelajaran. Ini bukan sekadar menyusun daftar materi pelajaran, tetapi tentang merancang pengalaman belajar yang holistik dan bermakna bagi peserta didik.

Makna:

Fokus pada Peserta Didik: Kurikulum berbasis capaian akhir berpusat pada peserta didik dan perkembangan mereka. Capaian akhir menjadi tolok ukur untuk memastikan bahwa pembelajaran berorientasi pada kebutuhan dan potensi peserta didik.

Pembelajaran Bertujuan: Capaian akhir memberikan arah yang jelas bagi pembelajaran, memungkinkan guru untuk merancang kegiatan belajar yang terarah dan efektif untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

Penilaian yang Bermakna: Penilaian tidak hanya berfokus pada hafalan dan tes, tetapi pada pengukuran kemampuan dan keterampilan peserta didik dalam mencapai capaian akhir.

Fleksibilitas dan Kreativitas: Kurikulum berbasis capaian akhir memberikan ruang bagi guru untuk berkreasi dan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan konteks belajar.

Implikasi:

Perencanaan yang Matang: Pengembangan kurikulum berbasis capaian akhir membutuhkan perencanaan yang matang, termasuk identifikasi capaian akhir yang jelas, pemilihan materi pembelajaran yang relevan, dan penyusunan strategi pembelajaran yang efektif.

Asesmen yang Berkelanjutan: Penilaian menjadi bagian integral dari proses pembelajaran, bukan hanya di akhir pembelajaran. Guru perlu melakukan asesmen secara berkelanjutan untuk memantau kemajuan peserta didik dan menyesuaikan pembelajaran jika diperlukan.

Keterlibatan Peserta Didik: Peserta didik perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perumusan capaian akhir hingga penilaian diri. Hal ini membantu mereka untuk memahami tujuan pembelajaran dan mengambil tanggung jawab atas belajar mereka sendiri.

Kolaborasi dan Komunikasi: Pengembangan kurikulum berbasis capaian akhir membutuhkan kolaborasi dan komunikasi yang efektif antara guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya.

Mengembangkan kurikulum PJOK berbasis capaian akhir adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan dinamis. Membutuhkan komitmen, dedikasi, dan kerja sama dari semua pihak untuk memastikan bahwa peserta didik mendapatkan pendidikan PJOK yang berkualitas dan bermanfaat.

Berikut beberapa contoh penerapan dalam praktik:

Bekerja sama dengan tim guru PJOK untuk menentukan capaian akhir yang ingin dicapai.

Melibatkan peserta didik dalam proses perumusan capaian akhir melalui diskusi dan brainstorming.

Membuat peta kurikulum yang menghubungkan capaian akhir dengan materi pembelajaran, kegiatan belajar, dan indikator penilaian.

Mengembangkan berbagai metode pembelajaran yang menarik dan inovatif untuk mencapai capaian akhir.

Melakukan asesmen formatif dan sumatif untuk memantau kemajuan peserta didik dan menyesuaikan pembelajaran jika diperlukan.

Memberikan umpan balik yang konstruktif dan positif kepada peserta didik untuk membantu mereka belajar dan berkembang.

Berkomunikasi dengan orang tua tentang capaian akhir dan kemajuan belajar anak mereka.

dorong peserta didik untuk bekerja sama dalam menyelesaikan proyek belajar.

 

 

MODUL PKG PJOK 1.4.c.3.a. KEKUATAN PEMAHAMAN ADIL GENDER DALAM PJOK - PKG PJOK

 

1.4.c.3.a. Kuatkan Pemahaman - Adil Gender dalam PJOK

https://youtu.be/gYyhzUNN_aE?si=DoyVG041A9QblomY

 

Bapak/Ibu akan melakukan tahapan kuatkan pemahaman pembelajaran ini secara mandiri di LMS dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Anda diminta untuk membaca dan memberikan komentar/pandangan/pendapat berdasarkan pertanyaan yang diajukan pada bagian forum diskusi di LMS. Tuliskan pendapat dan pandangan Anda di bagian komentar forum diskusi di LMS pada setiap situasi yang dimunculkan dalam pembelajaran ini.

 

situasi 1

langkah yang diambil guru dalam pembelajaran pendidikan jasmani di kelas 8 dengan menggabungkan peserta didik putra dan putri dalam satu kelompok sudah benar. Berikut analisa dan penjelasan berdasarkan bahan bacaan yang telah diberikan:

Pertama, langkah ini mendukung kesetaraan gender. Dengan menggabungkan peserta didik putra dan putri dalam satu kelompok, guru mengajarkan pentingnya kerja sama tanpa memandang jenis kelamin. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran yang ingin meningkatkan sikap belajar dan melatih koordinasi mata-tangan serta kemampuan motorik.

Kedua, pembelajaran yang inklusif. Menggabungkan peserta didik putra dan putri dalam satu kelompok juga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Ini memungkinkan semua peserta didik untuk berpartisipasi aktif dan merasa dihargai dalam kegiatan pembelajaran.

Ketiga, meningkatkan keterampilan sosial. Dalam permainan sepak bola yang melibatkan peserta didik putra dan putri, mereka akan belajar untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Ini adalah keterampilan sosial yang penting dan akan bermanfaat bagi mereka di masa depan.

Dalam permainan tersebut, kemungkinan besar peserta didik akan menunjukkan berbagai tingkat kemampuan dan kerja sama. Beberapa peserta didik mungkin lebih unggul dalam keterampilan sepak bola, sementara yang lain mungkin lebih baik dalam kerja sama tim. Guru harus memantau dan memberikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu semua peserta didik berkembang.

contohnya dalam pembinaan sepak bola di usia dini atau SSB ketika ada event / turnamen anak usia dini antara anak putra dan putri boleh bermain bersama/ di gabung putra dan putri.

namun ada kekurangannya juga, jika anak putra dan putri digabung saat bermain bola sangat beresiko pada ana putri, contoh kebanyakan anak putra ketika menendang bola sangat keras kemudia terkena anak badan anak putri kemungkinan bear anak tersebut bisa kesakitan dan menangis. begitu juga saat berkontak badan anatra anak putra dan putri.

situasi 2

Dalam pembelajaran PJOK kelas 4 SD dengan materi senam lantai roll depan, guru telah melakukan langkah-langkah yang tepat untuk memastikan keamanan dan partisipasi aktif semua peserta didik. Berikut adalah analisa berdasarkan informasi yang diberikan dan pengetahuan saya:

Pertama, penggunaan matras panjang sebagai sarana keamanan sangat penting. Ini memberikan rasa aman bagi peserta didik saat melakukan gerakan roll depan, mengurangi risiko cedera, dan meningkatkan keberanian mereka untuk mencoba gerakan tersebut.

Kedua, pembagian peserta didik menjadi dua kelompok tanpa memperhatikan jenis kelamin adalah langkah yang baik untuk mendorong kesetaraan gender. Ini memungkinkan semua peserta didik, baik putra maupun putri, untuk berpartisipasi secara aktif dan setara dalam kegiatan.

Ketiga, metode berbanjar ke samping menghadap matras dan bergantian melakukan roll depan sesuai petunjuk dan aba-aba guru adalah cara yang efektif untuk memastikan semua peserta didik mendapatkan kesempatan untuk berlatih. Kelompok yang mengamati dan membantu juga berperan penting dalam menjaga keamanan dan memberikan dukungan kepada teman-temannya.

Dengan langkah-langkah ini, guru telah menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung partisipasi aktif semua peserta didik. Ini sejalan dengan tujuan pembelajaran untuk meningkatkan sikap belajar, melatih koordinasi mata-tangan, dan keterampilan motorik peserta didik.

 


MODUL PKG 1.4.c.2. KEKUATAN PEMAHAMAN PARTISIPASI PESERTA DIDIK DISABILATS DALAM PJOK - PKG PJOK

 

1.4.c.2. Kuatkan Pemahaman - Partisipasi Peserta Didik Disabilitas dalam PJOK

 

Bapak/Ibu akan melakukan tahapan kuatkan pemahaman pembelajaran ini secara mandiri di LMS dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Anda diminta untuk membaca dan memberikan komentar/pandangan/pendapat berdasarkan pertanyaan yang diajukan pada bagian forum diskusi di LMS. Tuliskan pendapat dan pandangan Anda di bagian komentar forum diskusi di LMS pada setiap situasi yang dimunculkan dalam pembelajaran ini.

ANALISIS SITUASI:

Dalam sebuah kelas terdapat dua orang penyandang disabilitas, yang satu menggunakan kursi roda, sementara yang satu mengalami amputasi pada lengan kanannya karena kecelakaan. Seandainya Bapak/Ibu yang bertugas mengampu pembelajaran di kelas itu, langkah apa yang Anda lakukan?

 

Mengajar di Kelas dengan Siswa berkebutuhan khusus

Mengajar di kelas dengan siswa berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pendekatan yang inklusif dan kreatif untuk memastikan semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1.    Memahami Kebutuhan Siswa:

Berkomunikasi dengan orang tua dan tim pendukung: Hal ini penting untuk memahami jenis dan tingkat disabilitas siswa, serta kebutuhan dan akomodasi khusus yang mereka butuhkan.

2.    Menyesuaikan Pembelajaran:

Modifikasi materi dan kegiatan pembelajaran: Sesuaikan materi pelajaran dan kegiatan pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa ABK. Gunakan berbagai metode pengajaran, seperti visual, auditori, dan kinestetik, untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda.

3.    Ciptakan Lingkungan Belajar yang Inklusif:

Promosikan sikap saling menghormati: Ciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif di mana semua siswa merasa diterima dan dihargai, terlepas dari latar belakang, kemampuan, dan minat mereka.

 

https://youtu.be/Lo4fx3ZDWsw?si=vM8EiPQP1TyOMx2_

MODUL PKG PJOK 1.4.c.1. KEKUATAN PEMAHAMAN EKSLUSIVITAS PENDIDIKAN JASMANI DALAM DOMINASI WACANA OLAHRAGA - PKG PJOK


 1.4.c.1. Kuatkan Pemahaman - Ekslusivitas Pendidikan Jasmani Dalam Dominasi Wacana Olahraga

 

Bapak/Ibu akan melakukan tahapan kuatkan pemahaman pembelajaran ini secara mandiri di LMS dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Kemudian Anda diminta untuk membaca dan memberikan komentar/pandangan/pendapat berdasarkan pertanyaan yang diajukan pada bagian forum diskusi di LMS. Tuliskan pendapat dan pandangan Anda di bagian komentar forum diskusi di LMS pada setiap situasi yang dimunculkan dalam pembelajaran ini.


Silakan cermati kedua situasi di bawah (klik pada tombol Situasi yang ingin dibuka), kemudian tuliskan pendapat dan pandangan Anda!

 

SITUASI 1

1. Analisis dari Sisi Konsep Pendidikan Jasmani

Secara umum, rancangan tes yang dilakukan Pak Budi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan dari sisi konsep pendidikan jasmani:

Kelebihan:

Meliputi berbagai aspek kebugaran jasmani: Tes yang dipilih (push-up, sit-up, dan lari 12 menit) mengukur beberapa komponen kebugaran jasmani yang penting, yaitu kekuatan otot perut, kekuatan otot dada dan lengan, dan daya tahan kardiovaskular.

Mempertimbangkan keterampilan olahraga: Tes keterampilan dasar cabang olahraga yang telah diajarkan selama satu semester memungkinkan Pak Budi untuk menilai perkembangan keterampilan motorik dan teknik peserta didik dalam berbagai cabang olahraga.

Memenuhi kebutuhan penilaian: Tes ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan penilaian nilai rapor semester gasal, yang merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Kekurangan:

Kurang menekankan aspek lain dari pendidikan jasmani: Tes ini hanya berfokus pada aspek kebugaran jasmani dan keterampilan olahraga, dan tidak mencakup aspek lain dari pendidikan jasmani seperti nilai-nilai sportivitas, kerjasama, dan tanggung jawab.

Kemungkinan kurangnya validitas dan reliabilitas: Tes push-up dan sit-up memiliki keterbatasan dalam mengukur kekuatan otot secara keseluruhan, dan tes lari 12 menit mungkin kurang sensitif untuk mengukur daya tahan kardiovaskular pada semua peserta didik.

Berpotensi menimbulkan kecemasan pada peserta didik: Penekanan pada penilaian dan pengukuran dalam tes ini dapat menimbulkan kecemasan pada peserta didik, yang dapat menghambat proses belajar dan perkembangan mereka.

2.     Terkait dengan Wacana Eksklusifitas

Situasi yang tergambar di atas memiliki potensi untuk menimbulkan eksklusifitas dalam beberapa hal:

Peserta didik yang kurang bugar atau memiliki keterbatasan fisik mungkin dirugikan: Tes yang berfokus pada kebugaran jasmani dan keterampilan olahraga dapat membuat peserta didik yang kurang bugar atau memiliki keterbatasan fisik merasa tertinggal dan dikucilkan.

Penekanan pada tes dapat mempersempit fokus pembelajaran: Terlalu fokus pada tes untuk memenuhi kebutuhan penilaian dapat mempersempit fokus pembelajaran pendidikan jasmani dan mengalihkan perhatian dari tujuan yang lebih luas seperti pengembangan karakter dan kesehatan seumur hidup.

Memperkuat stereotip gender: Tes yang menekankan pada kekuatan dan daya tahan fisik dapat memperkuat stereotip gender tentang peran laki-laki dan perempuan dalam olahraga dan aktivitas fisik.

Untuk meminimalkan potensi eksklusifitas dan meningkatkan efektivitas pembelajaran pendidikan jasmani, Pak Budi dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut:

Menggunakan berbagai metode penilaian: Selain tes, Pak Budi dapat menggunakan metode penilaian lain yang lebih holistik, seperti observasi, portofolio, dan penilaian diri, untuk menilai perkembangan peserta didik secara menyeluruh.

Menekankan pada partisipasi dan usaha: Memberikan nilai dan penghargaan kepada peserta didik yang menunjukkan partisipasi aktif dan usaha yang maksimal dalam pembelajaran, terlepas dari kemampuan fisik mereka.

Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif: Membangun lingkungan belajar yang aman dan suportif di mana semua peserta didik merasa diterima dan dihargai, terlepas dari latar belakang, kemampuan, dan minat mereka.

Memfokuskan pada pengembangan karakter dan kesehatan seumur hidup: Membantu peserta didik untuk mengembangkan nilai-nilai sportivitas, kerjasama, dan tanggung jawab, serta membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menjalani gaya hidup aktif dan sehat sepanjang hidup mereka.

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek ini, Pak Budi dapat merancang pembelajaran pendidikan jasmani yang lebih inklusif, efektif, dan bermanfaat bagi semua peserta didik.

 

SITUASI 2

1.     Kecenderungan Sikap Rudi dan Seto dalam Memilih Anggota Tim

Dalam situasi di atas, Rudi dan Seto kemungkinan besar akan memilih anggota tim berdasarkan beberapa faktor, yaitu:

Kemampuan bermain kasti: Mereka mungkin memilih teman yang mereka anggap pandai bermain kasti, dengan harapan tim mereka memiliki peluang lebih besar untuk menang.

Kecocokan pertemanan: Mereka mungkin memilih teman yang dekat dengan mereka atau yang mereka sukai untuk bermain bersama.

Keuntungan fisik: Mereka mungkin memilih teman yang memiliki fisik yang kuat atau gesit, yang dianggap menguntungkan dalam permainan kasti.

Kecenderungan ini dapat menimbulkan beberapa masalah, seperti:

Eksklusivitas: Teman yang dianggap kurang pandai bermain kasti, tidak populer, atau memiliki fisik yang lemah mungkin diabaikan atau dikucilkan dalam proses pemilihan tim.

Ketidakadilan: Tim yang mendapatkan anggota yang lebih pandai bermain kasti mungkin memiliki keuntungan yang tidak adil dan mendominasi permainan.

Kekecewaan dan frustrasi: Teman yang tidak terpilih mungkin merasa kecewa dan frustrasi, yang dapat mengganggu motivasi dan semangat mereka dalam belajar.

1.     Masalah Terkait Eksklusifitas

Gambaran situasi di atas menunjukkan beberapa potensi masalah dalam kerangka tema eksklusifitas, yaitu:

Pemilihan tim yang tidak adil: Cara pemilihan tim yang dilakukan oleh Rudi dan Seto tidak adil dan tidak inklusif. Mereka hanya memilih teman yang mereka anggap "baik" dalam bermain kasti, dan mengabaikan teman yang lain.

Stigmatisasi dan diskriminasi: Teman yang tidak terpilih mungkin distigmatisasi sebagai "pemain yang buruk" atau "tidak populer". Hal ini dapat menyebabkan diskriminasi dan perundungan dalam lingkungan sekolah.

Kehilangan kesempatan belajar: Teman yang tidak terpilih kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan bermain kasti. Hal ini dapat memperlebar kesenjangan kemampuan antar peserta didik.

Saran:

Untuk menghindari masalah-masalah tersebut, Pak Budi dapat mengubah cara pemilihan tim dengan beberapa cara berikut:

Membagi tim secara acak: Pak Budi dapat membagi tim secara acak, sehingga semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk bermain bersama dengan teman yang berbeda.

Menggunakan sistem pemilihan tim yang kooperatif: Pak Budi dapat menggunakan sistem pemilihan tim yang kooperatif, seperti lelang pemain atau sistem kapten, di mana semua peserta didik terlibat dalam proses pemilihan tim.

Menekankan pada kerjasama dan sportivitas: Pak Budi dapat menekankan pada nilai-nilai kerjasama dan sportivitas dalam permainan kasti, dan mendorong semua peserta didik untuk saling mendukung dan menghargai satu sama lain.

Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, Pak Budi dapat menciptakan pembelajaran PJOK yang lebih inklusif, adil, dan bermanfaat bagi semua peserta didik.

 https://youtu.be/JQF83j3otck?si=bimfi-FrxK9J80pp

1.4.c.1. Kuatkan Pemahaman - Ekslusivitas Pendidikan Jasmani Dalam Dominasi Wacana Olahraga

 

Bapak/Ibu akan melakukan tahapan kuatkan pemahaman pembelajaran ini secara mandiri di LMS dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Kemudian Anda diminta untuk membaca dan memberikan komentar/pandangan/pendapat berdasarkan pertanyaan yang diajukan pada bagian forum diskusi di LMS. Tuliskan pendapat dan pandangan Anda di bagian komentar forum diskusi di LMS pada setiap situasi yang dimunculkan dalam pembelajaran ini.


Silakan cermati kedua situasi di bawah (klik pada tombol Situasi yang ingin dibuka), kemudian tuliskan pendapat dan pandangan Anda!

 

SITUASI 1

1. Analisis dari Sisi Konsep Pendidikan Jasmani

Secara umum, rancangan tes yang dilakukan Pak Budi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan dari sisi konsep pendidikan jasmani:

Kelebihan:

Meliputi berbagai aspek kebugaran jasmani: Tes yang dipilih (push-up, sit-up, dan lari 12 menit) mengukur beberapa komponen kebugaran jasmani yang penting, yaitu kekuatan otot perut, kekuatan otot dada dan lengan, dan daya tahan kardiovaskular.

Mempertimbangkan keterampilan olahraga: Tes keterampilan dasar cabang olahraga yang telah diajarkan selama satu semester memungkinkan Pak Budi untuk menilai perkembangan keterampilan motorik dan teknik peserta didik dalam berbagai cabang olahraga.

Memenuhi kebutuhan penilaian: Tes ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan penilaian nilai rapor semester gasal, yang merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Kekurangan:

Kurang menekankan aspek lain dari pendidikan jasmani: Tes ini hanya berfokus pada aspek kebugaran jasmani dan keterampilan olahraga, dan tidak mencakup aspek lain dari pendidikan jasmani seperti nilai-nilai sportivitas, kerjasama, dan tanggung jawab.

Kemungkinan kurangnya validitas dan reliabilitas: Tes push-up dan sit-up memiliki keterbatasan dalam mengukur kekuatan otot secara keseluruhan, dan tes lari 12 menit mungkin kurang sensitif untuk mengukur daya tahan kardiovaskular pada semua peserta didik.

Berpotensi menimbulkan kecemasan pada peserta didik: Penekanan pada penilaian dan pengukuran dalam tes ini dapat menimbulkan kecemasan pada peserta didik, yang dapat menghambat proses belajar dan perkembangan mereka.

2.     Terkait dengan Wacana Eksklusifitas

Situasi yang tergambar di atas memiliki potensi untuk menimbulkan eksklusifitas dalam beberapa hal:

Peserta didik yang kurang bugar atau memiliki keterbatasan fisik mungkin dirugikan: Tes yang berfokus pada kebugaran jasmani dan keterampilan olahraga dapat membuat peserta didik yang kurang bugar atau memiliki keterbatasan fisik merasa tertinggal dan dikucilkan.

Penekanan pada tes dapat mempersempit fokus pembelajaran: Terlalu fokus pada tes untuk memenuhi kebutuhan penilaian dapat mempersempit fokus pembelajaran pendidikan jasmani dan mengalihkan perhatian dari tujuan yang lebih luas seperti pengembangan karakter dan kesehatan seumur hidup.

Memperkuat stereotip gender: Tes yang menekankan pada kekuatan dan daya tahan fisik dapat memperkuat stereotip gender tentang peran laki-laki dan perempuan dalam olahraga dan aktivitas fisik.

Untuk meminimalkan potensi eksklusifitas dan meningkatkan efektivitas pembelajaran pendidikan jasmani, Pak Budi dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut:

Menggunakan berbagai metode penilaian: Selain tes, Pak Budi dapat menggunakan metode penilaian lain yang lebih holistik, seperti observasi, portofolio, dan penilaian diri, untuk menilai perkembangan peserta didik secara menyeluruh.

Menekankan pada partisipasi dan usaha: Memberikan nilai dan penghargaan kepada peserta didik yang menunjukkan partisipasi aktif dan usaha yang maksimal dalam pembelajaran, terlepas dari kemampuan fisik mereka.

Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif: Membangun lingkungan belajar yang aman dan suportif di mana semua peserta didik merasa diterima dan dihargai, terlepas dari latar belakang, kemampuan, dan minat mereka.

Memfokuskan pada pengembangan karakter dan kesehatan seumur hidup: Membantu peserta didik untuk mengembangkan nilai-nilai sportivitas, kerjasama, dan tanggung jawab, serta membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menjalani gaya hidup aktif dan sehat sepanjang hidup mereka.

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek ini, Pak Budi dapat merancang pembelajaran pendidikan jasmani yang lebih inklusif, efektif, dan bermanfaat bagi semua peserta didik.

 

SITUASI 2

1.     Kecenderungan Sikap Rudi dan Seto dalam Memilih Anggota Tim

Dalam situasi di atas, Rudi dan Seto kemungkinan besar akan memilih anggota tim berdasarkan beberapa faktor, yaitu:

Kemampuan bermain kasti: Mereka mungkin memilih teman yang mereka anggap pandai bermain kasti, dengan harapan tim mereka memiliki peluang lebih besar untuk menang.

Kecocokan pertemanan: Mereka mungkin memilih teman yang dekat dengan mereka atau yang mereka sukai untuk bermain bersama.

Keuntungan fisik: Mereka mungkin memilih teman yang memiliki fisik yang kuat atau gesit, yang dianggap menguntungkan dalam permainan kasti.

Kecenderungan ini dapat menimbulkan beberapa masalah, seperti:

Eksklusivitas: Teman yang dianggap kurang pandai bermain kasti, tidak populer, atau memiliki fisik yang lemah mungkin diabaikan atau dikucilkan dalam proses pemilihan tim.

Ketidakadilan: Tim yang mendapatkan anggota yang lebih pandai bermain kasti mungkin memiliki keuntungan yang tidak adil dan mendominasi permainan.

Kekecewaan dan frustrasi: Teman yang tidak terpilih mungkin merasa kecewa dan frustrasi, yang dapat mengganggu motivasi dan semangat mereka dalam belajar.

1.     Masalah Terkait Eksklusifitas

Gambaran situasi di atas menunjukkan beberapa potensi masalah dalam kerangka tema eksklusifitas, yaitu:

Pemilihan tim yang tidak adil: Cara pemilihan tim yang dilakukan oleh Rudi dan Seto tidak adil dan tidak inklusif. Mereka hanya memilih teman yang mereka anggap "baik" dalam bermain kasti, dan mengabaikan teman yang lain.

Stigmatisasi dan diskriminasi: Teman yang tidak terpilih mungkin distigmatisasi sebagai "pemain yang buruk" atau "tidak populer". Hal ini dapat menyebabkan diskriminasi dan perundungan dalam lingkungan sekolah.

Kehilangan kesempatan belajar: Teman yang tidak terpilih kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan bermain kasti. Hal ini dapat memperlebar kesenjangan kemampuan antar peserta didik.

Saran:

Untuk menghindari masalah-masalah tersebut, Pak Budi dapat mengubah cara pemilihan tim dengan beberapa cara berikut:

Membagi tim secara acak: Pak Budi dapat membagi tim secara acak, sehingga semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk bermain bersama dengan teman yang berbeda.

Menggunakan sistem pemilihan tim yang kooperatif: Pak Budi dapat menggunakan sistem pemilihan tim yang kooperatif, seperti lelang pemain atau sistem kapten, di mana semua peserta didik terlibat dalam proses pemilihan tim.

Menekankan pada kerjasama dan sportivitas: Pak Budi dapat menekankan pada nilai-nilai kerjasama dan sportivitas dalam permainan kasti, dan mendorong semua peserta didik untuk saling mendukung dan menghargai satu sama lain.

Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, Pak Budi dapat menciptakan pembelajaran PJOK yang lebih inklusif, adil, dan bermanfaat bagi semua peserta didik.

 

MODUL PKG PJOK 1.3 PEMBELAJARAN PJOK BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK - PKG PJOK

 

Modul 1.3. Pembelajaran PJOK Berpusat pada Peserta Didik

 

1.3.b.3.1. Diskusi Elaborasi Isi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK

 

Langkah-langkah yang disajikan pada aktivitas sebelumnya (Contoh Langkah-langkah Penerapan Pembelajaran Terdiferensiasi) merupakan salah satu contoh yang bersifat inspiratif dalam mengembangkan beragam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sesuai dengan konteks yang dihadapi di sekolah masing-masing. Kami akan mengajak Ibu dan Bapak mengelaborasi pembelajaran diferensiasi pada forum diskusi LMS. Berikut pertanyaan pemantik dalam diskusi :

1.    Pernahkah Ibu dan Bapak melakukan strategi penerapan langkah diferensiasi yang sama meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda? 

2.    Bagaimana perasaan Ibu dan Bapak setelah mencermati kedua situasi pembelajaran tersebut? mengapa?

3.    Apa hal positif dari kedua situasi pembelajaran tersebut?

4.    Gagasan baru apa yang Ibu dan Bapak dapatkan dari kedua situasi pembelajaran tersebut

 

1.Pastinya saya pernah melakukan strategi penerapan langkah diferensiasi yang sama tetapi menggunakan istilah yang berbeda.  karena dalam pendidikan variasi terminologi yang digunakan guru sebagai sumber pemberian materi. Misalnya, satu guru mungkin menyebutnya "penugasan berdasarkan tingkat kemampuan" sementara guru lain menyebutnya "diferensiasi berdasarkan kesiapan belajar siswa". Kedua istilah tersebut merujuk pada konsep yang sama yaitu menyesuaikan tugas dan kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan individu siswa.

2.Perasaan yang Dirasakan oleh diri saya setelah mencermati kedua situasi pembelajaran adanya rasa:

o   Kepuasan: Keberhasilan strategi diferensiasi dalam kedua situasi menunjukkan bahwa pendekatan tersebut bermanfaat bagi siswa.

o   Pencerahan: Menyadari bahwa istilah yang berbeda dapat digunakan untuk mengartikulasikan konsep yang sama dapat membantu dalam mengkomunikasikan ide-ide dengan rekan sejawat atau dalam mengikuti berbagai pelatihan.

3.Hal positif dari kedua kedua situasi pembelajaran diferensiasi yang sama meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda diantaranya :

·       Keberhasilan Diferensiasi: Menunjukkan bahwa strategi diferensiasi efektif diterapkan dalam berbagai konteks.

·       Fleksibilitas Guru: Guru mampu mengadaptasi pendekatan yang berbeda sesuai kebutuhan tanpa terikat pada terminologi tertentu.

·       Pengembangan Siswa: Siswa mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka, yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mereka.

·       Pembelajaran Berkelanjutan: Memperoleh wawasan baru tentang penerapan strategi diferensiasi dapat mendorong pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru. 

4. Gagasan baru yang saya dapatkan dari pembelajaran diferensiasi

·       Pentingnya Adaptasi dan Fleksibilitas: Menyadari bahwa metode yang sama dapat diterapkan dengan berbagai cara dan istilah yang berbeda.

·       Kolaborasi dan Komunikasi: Pentingnya berbagi dan mendiskusikan strategi dengan rekan sejawat untuk memperkaya pemahaman bersama.

·       Pemahaman Holistik tentang Diferensiasi: Mendapatkan wawasan lebih mendalam tentang bagaimana diferensiasi dapat diterapkan secara efektif dalam berbagai konteks.

·       Inovasi dalam Pengajaran: Mendorong eksplorasi metode baru dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa.


https://youtu.be/ZK-XgZVn9KQ?si=gM1Wa5U8Ym1mj0lp